Yuk saling menasihati dalam kebaikan :)
Bismillahirrahmanirrahim
Barangkali
beberapa dari kita ada yang tidak mengetahui perihal pentingnya amalan salat
tepat waktu, pun juga luput mencari tahu.
Barangkali
banyak dari kita telah banyak tahu perkara amalan tersebut, tapi belum tergerak
mengamalkannya.
Atau barangkali sebagian dari kita sudah mulai mengamalkannya, tapi lupa
mengusahakan untuk istiqamah.
Pun
barangkali ada dari kita telah istiqamah salat tepat waktu. Namun, sudahkah
keikhlasan selalu mampu mengiringi?
Betapa
manusia adalah makhluk yang lemah. Dan sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan
Maha Penerima Taubat.
Salat adalah tiang agama. Andaikan kita ingin membangun rumah tetapi tanpa
tiang, barang tentu mustahil untuk berdiri. Apa bisa disebut sebagai rumah? Tentu
tidak karena tiang adalah komponen utama pada sebuah rumah. Pun begitu utamanya
kedudukan salat dalam Islam. Salat menentukan roboh atau tegaknya Islam dalam
diri seseorang. Jika dilihat dalam arti lebih luas maka salat juga akan
menentukan roboh atau tegaknya agama Islam dalam suatu zaman.
Salat adalah amalan
yang akan pertama kali dihisab. Orang yang salatnya baik akan selamat dan
orang yang salatnya rusak termasuk golongan orang yang merugi.
Dari
Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali
akan dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Apabila salatnya baik, dia akan
mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila salatnya rusak, dia akan
menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari salat wajibnya, Allah Tabaroka
wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan salat
sunnah?’ Maka salat sunnah tersebut akan menyempurnakan salat wajibnya yang kurang.
Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat
akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti
itu pula.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim, Baihaqi).
Salat pada waktunya merupakan amalan yang paling utama. Dari Abu Amr
Asy-Syaibani –yang bernama Sa’d bin Iyas-, dia berkata : Telah bercerita kepada saya pemilik rumah ini –dia mengisyaratkan
dengan tangannya ke rumah Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu-, dia berkata: Saya
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Amal perbuatan apa
yang paling dicintai Allah?
Beliau menjawab : “Salat pada waktunya”
Saya bertanya : “Kemudian apa ?”
Beliau menjawab : “Berbakti kepada kedua
orang tua”
Saya bertanya : “Kemudian apa ?”
Beliau menjawab : “Jihad di jalan Allah”
Sedangkan firman Allah mengenai orang-orang yang lalai dalam salatnya adalah
sebagai berikut:
"Maka, kecelakaanlah bagi
orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan salatnya." [Al-Ma'un:
4-5].
Sa'ad
bin Abi Waqqash berkata, "Aku
bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan salatnya.
Beliau menjawab, yaitu mengakhirkan waktunya."
Ya,
mengakhirkan waktunya. Menunda-nunda. Bahkan seringnya sampai terburu-buru
melaksanakan salatnya karena sudah akan masuk waktu salat berikutnya. Kemudian
setelahnya kembali berkutat dengan aktivitasnya lalu kembali menunda untuk
salat berikutnya. Astaghfirullah.
Adapun
balasan untuk orang yang menyia-nyiakan salat tertulis pada ayat Al-Quran
berikut ini:
"Mereka itu adalah orang-orang yang
telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari
keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri
petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha
Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat
dan memper-turutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.
Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan
masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." [Maryam:
58-60].
Ibnu Abbas berkata, "Makna menyia-yiakan salat salat bukanlah meninggalkannya sama
sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya."
Ayat
tersebut mengingatkan kita akan datangnya suatu masa yang kebanyakan
penghuninya adalah generasi yang rusak, manjadikan hawa nafsu sebagai yang nomor
satu. Generasi yang menyia-nyiakan salatnya. Astaghfirullah. Sungguh berbeda dengan generasi terdahulu dan
generasi saat Islam pertama-tama disebarkan. Pada novel "Muhammad: Lelaki
Penggenggam Hujan" karya Tasaro GK yang mengacu pada sumber-sumber
terpercaya, ada sebuah paragraf yang pasti akan membuat kita benar terharu.
"Sebuah suara melengking dari masjid,
lalu orang-orang serempak meninggalkan apapun yang tengah dia kerjakan
sebelumnya. Mereka yang tengah berdagang, meninggalkan dagangannya. Mereka yang
sedang mencangkul, melepaskan cangkulnya. Mereka yang beristirahat, buru-buru
meninggalkan rumahnya. Serempak, tanpa seorang pun yang memberontak.
Bergelombang penduduk kota menuju masjid dalam kepatuhan yang jauh dari
imajinasi Abu Sufyan.”
Kemudian
ketika kita bandingkan dengan masa sekarang.
Suara
adzan tak membuat kita berhenti scroll sosial
media.
Suara
adzan tak membuat kita mengambil jeda sejenak untuk salat, tetap saja kita
melaju di jalan raya. Setan pun berbisik, “Nanggung,
bentar lagi sampai.”
Suara
adzan hanya sekedar lewat, kemudian kembali sibuk bekerja.
Panggilan
Allah tak lagi membuat kita bersegera karena takut siksa-Nya, lebih terasa
takutnya ketika dimarahi bos, dicerca pelanggan, dsb.
Ya,
kebanyakan dari kita masih seperti itu. Saya pun. Astaghfirullah.
Oleh sebab itu, selagi kita masih diberi waktu, yuk benahi salat kita. Sebelum
penyesalan datang di hari kemudian. Selama belum menghadapi sakaratul maut,
mulailah untuk salat tepat waktu dan peliharalah salat. Ingatlah selalu, saat
ruh manusia telah sampai pada kerongkongan, saat itulah taubat manusia sudah tak
lagi berguna.
Berbicara tentang penyesalan, kita semua pasti pernah merasakannya. Menyesal ketika tidak bisa masuk di sekolah
yang diimpikan karena kurang belajar, menyesal tak bisa membawa medali karena
tak berusaha lebih keras, ataupun bagi yang orang tuanya sudah meninggal (Inna lillahi wa inna ilaihi
rooji'un), menyesal tak berbakti kepada orang tua selagi mereka
masih ada. Namun, seperti waktu hidup di dunia yang sungguh tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan lamanya kehidupan di akhirat, pun penyesaan di
dunia juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan ketika di
akhirat. Jangan sampai kita menyesal di hari kemudian karena lupa membawa amal
saleh sebagai bekal, salah satunya adalah memelihara salat. Adapun tentang
penyesalan, seperti tersebut dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang tak percaya
bahwa setelah kematian dia akan kembali kepada-Nya, menemui penyesalannya ketika
dihadapkan siksa kubur. Naudzubillah min dzalik.
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya
kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di
hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan
mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal
saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". [As
Sajdah:12]
Maka rasailah olehmu (siksa ini)
disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat);
sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal,
disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan". [As Sajdah:14]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman
dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan
ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya,
sedang mereka tidak menyombongkan diri. [As Sajdah: 15]
Alangkah banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas mengenai salat. Tak
kalah banyak pula ayat-ayat Al-Qur'an yang mengingatkan kita akan datangnya
hari akhir. Manusialah yang memang seringnya tak mampu menggunakan indranya
dengan semestinya. Betapa kita manusia adalah makhluk yang lemah.
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan
yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat
untuk mengingat Aku.” [Taha:14].
“Sungguh, hari kiamat itu akan datang,
Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang
dia usahakan” [Taha:15].
“Maka janganlah engkau dipalingkan dari
(kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti
keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa” [Taha:16].
Mengubah kebiasaan buruk bukan hal yang mudah, seperti halnya mengubah
kebiasaan menunda-nunda salat. Berikut ini adalah beberapa tips untuk mengubah
kebiasaan tersebut:
1.
Membuat alarm salat
Buatlah
alarm salat. Semisal alarm untuk salat Ashar adalah 15.04 dan 16.00. Dua alarm
tersebut untuk mengantisipasi jika kita masih melewatkan salat setelah adzan
berkumandang. Jika sudah berhasil salat jam 16.00, ubah
alarm menjadi 15.04 dan 15.30, dan terus perbaiki sampai terbiasa salat setelah
adzan memanggil.
2. Banyak berteman dengan orang-orang saleh
Keberadaan seorang teman sedikit banyak akan mempengaruhi akhlak dan
kepribadian kita. Oleh sebab itu, bertemanlah dengan orang-orang saleh. Mereka adalah salah satu dari banyak hal yang
menginspirasi kita untuk melakukan kebaikan. Bersyukurlah ketika kita menemukan
teman yang mau mengajak kita pada kebaikan dan tidak segan menasihati jika kita
melakukan kesalahan.
3. Mendekatkan diri kepada Allah
Salat
tepat waktu akan sulit dijalankan ketika kita jauh dari Allah. Mendekatkan diri
kepada Allah bisa dengan memperbanyak amalan sunnah. Cobalah mulai untuk lebih
memperbanyak dzikir dan istighfar dalam rangka mengingat Allah. Selain itu, semua takkan
terjadi tanpa kehendak Allah. Maka, banyak-banyaklah berdoa agar diberikan
kemudahan untuk bisa memelihara salat.
4. Membaca kisah Rasulullah SAW dan meneladaninya
Membaca
kisah perjuangan Rasulullah SAW akan membuat kita lebih memaknai Islam dan
mengerti akan sifat-sifat serta kebiasaan Rasulullah SAW yang seharusnya kita
teladani.
Wallahualam bi shawab.
Akhir
kata, terinspirasi itu mudah, yang sulit itu konsistensi. Namun, hal yang sulit bukan berarti tak bisa diusahakan bukan? Sekian. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.
Sumber:
Al
Qur’an
https://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/27/amalan-yang-paling-utama/
http://www.hisbah.net/salat-adalah-amalan-yang-pertama-kali-akan-dihisab/