Friday, 2 August 2013

Renungan Pasca UAS

Portal akademik. Nano nano rasanya. Ada yang dibikin sedih, tertawa bahagia, seneng, nangis, biasa saja, down, fly over,  tertekan, tidak terima, pengen banting laptop, dsb.
Saya termasuk yang “biasa saja” sih kayaknya. Kemarin saat akhirnya IP muncul di portal yang ada di pikiran saya hanyalah “hahaha persis seperti dugaanku, huruf-huruf yang tidak diinginkan muncul, IP turun, semua prediksi nilai tepat akurat kecuali FPI yang mndapat sedikit keajaiban, alhamdulillah.”
Untuk berjaga jaga, saya tidak akan menanyakan IP teman teman saya karena khawatir dapat terjangkit penyakit iri, hehe
Esok harinya, IP ternyata lumayan mnjadi trending topic di sosmed. Kemudian saya jadi teringat kata kata Ibu DPA saya saat KRS-an dulu. “Sudah cukup bagus, dipertahankan ya”. Entah itu sekedar basa basi atau tidak, saya menganggapnya serius. Sejak itu, saya berniat akan meningkatkannya, belajar yang bener agar tidak mengecewakan ortu.  Tapi waktu berlalu dan setan telah mencuri niat saya. Saya lupa diri dan tiba tiba sudah UTS. Tiba tiba sudah UAS. Dan ternyata, bisa sekedar mempertahankan pun ternyata tidak. 
Teringat UAS beberapa pekan lalu.  Sebagian besar soal UAS tidak bisa saya kerjakan dengan maksimal, terutama BKTK (terimakasih kepada Pak R*hm*n dkk atas soalnya yang unpredictable dan un'done'able), FPI (sumpaah ini feelnya nggak bisa dapet, mau nyentuh aja rasanya udah enggan, apalagi menghafal kalimat demi kalimat fpi yang begitu absurd, ditambah lagi dosennya yang ....... jadilah saat mengerjakan juga ........), KO2 (kalau rajin baca solomon dan rajin latian soal pasti bisa, tapi masalahnya...............), MTK2 (ini udah belajar tapi ya tetep aja begitu ngerjain soal, muncul pertanyaan 'ini apa sih'...), Gamtek (ternyata teori juga banyak yang keluar, nggak cuma suruh nggambar), sisanya sudah berusaha saya buang dari ingatan.
Ya, seperti paragraf diatas, saya cenderung menyalahkan keadaan ya, hehe. Manusiawi, terkadang kita memang tergoda untuk menyalahkan keadaan.
Dan sebelum kita terlarut dalam kekecewaan, keterpurukan, dan ke-misuh misuh-an, simak baik baik ini.
Apakah kita enjoy saat kuliah ?
Apakah kita fokus saat kuliah? Atau malah memikirkan hal lain? Ataukah sibuk dengan gadget? Ataukah tidur ?
Apakah kita mengerjakan tugas dan PR dengan mandiri? Atau hanya mengeluh dan terus mengeluh bahkan sebelum mencoba? Kemudian akhirnya, kita hanya menyalin jawaban teman dengan cepat tanpa berusaha memahami.
Apakah ketika tidak paham, kita berusaha menurunkan gengsi kemudian bertanya?
Apakah saat menjelang UAS kita berdoa dengan sepenuh hati memohon petunjuk kepada Allah? Yap, bahkan saya hanya bisa mengingat saya melakukan berdoa yang benar benar berdoa bisa dihitung dengan jari, salah satunya saat SNMPTN dulu.
Kemudian, apakah kita terlalu sibuk dengan aktivitas lain sehingga tidak ada waktu untuk belajar?
Apakah kita sudah punya passion? Sudah punya cita-cita? Target?
Jika belum, maka mungkin itu salah satu faktor yang sangat dominan dalam hal penurunan semangat kita.
Masih banyak apakah yang lain yang membuat kita memang seharusnya pantas mendapatkan nilai yang tidak memuaskan.
Pernah ada kakak angkatan yang berkata seperti ini, “Semester awal itu masih mudah untuk mendapat IP bagus, manfaatkanlah dengan baik. Saya menyesal tidak memanfaatkannya dengan baik, karena meskipun saya sudah berusaha keras, semester semester berikutnya tidak mudah”. Mungkin ada yang biasa saja membaca kalimat itu. Sekali lagi mungkin benar adanya, kita tidak akan tahu bagaimana pahitnya keadaan sebelum kita mengalaminya sendiri.
Mungkin benar IP itu bukan sesuatu yang sangat penting. Yang penting adalah kita harus tahu ilmunya. Tapi terkadang di dunia kerja, di Indonesia, tidak bisa dipungkiri, ilmu kita pertama kali juga diukur dengan IP. Dan tidak munafik, saya ingin mencicipi cumlaude. Agar sewaktu saya diwisuda nanti bisa membuat orang tua saya bangga.  

Menulis postingan ini saya jadi teringat kata kata saya kemarin: quote after seeing 'portal akademik': "next semester I will study hard, I won't be lazy people like this semester", but the next semester the quote still the same.
Quote saya semester lalu, dan juga semester ini. Semoga tidak untuk semester tiga. Aamiin.

Monday, 29 July 2013

Bedanya Kuliah dan Sekolah (Tips Sukses di Kampus) #2

Mungkin ketika SMA, kita iri melihat tetangga sebelah yang berstatus mahasiswa. Dia berangkat kuliah tak perlu pagi pagi buta, baju bebas, bahkan terkadang tidak berangkat kuliah sama sekali. Padahal setelah kuliah, kadang kita iri melihat anak SMA. Ya, itulah manusia haha
Sebelum mulai mengatur strategi sukses kuliah, kita perlu tahu medan tempur kita. Inilah perbedaan esensial antara belajar di SMA dan di Perguruan Tinggi
Tanggung Jawab Lebih Besar
Di SMA, hampir seluruh waktu belajar kita di sekolah sudah ditentukan. Intinya, wajib hadir di kelas pada semua mata pelajaran yang berlangsung pada jam yang hampir sama setiap hari. Istilahnya, tinggal ngikut lah
Di universitas, tidak semua dosen mewajibkan mahasiswa hadir. Terserah mau datang atau tidak. Meskipun tetap ada batas kehadiran minimum. Tapi jangan buru buru memutuskan hanya masuk saat ujian. Percayalah, kita akan ketinggalan banyak sekali kalau jarang masuk.

Wednesday, 10 July 2013

Bakwan Jagung dari Tepung Tapioka

Saya mau sedikit berbagi cerita nih pembaca. Bukan cerita tentang bagaimana resep membuat bakwan dari tepung tapioka. Bukan penemuan resep masakan baru. Ini tentang kekonyolanku, atau sebut saja kebodohanku juga boleh, hehe.
Malam ini malam terawih kedua di bulan ramadhan tahun ini. Kebetulan saya sedang ada dirumah. Libur, sedang tidak ada kegiatan kampus. Seperti biasa saya dan tetangga-tetangga melaksanakan ibadah terawih bersama di mushola desa kami. Setelah sholat terawih usai, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus bersama. Buat yang tidak tahu, tadarus itu mengaji atau membaca Al Quran bersama-sama. Nah, setelah selesai tadarus ada yang namanya jaburan. Jaburan itu makan makanan kecil usai terawih dan tadarus. Jadi, setiap rumah pada hari tertentu mendapat bagian untuk mengirimkan makanan tiap malamnya.
Malam ini, ada yang membawa tempe goreng, ketela, gondang gandug, dan bakwan jagung.
Sembari mengobrol saya mencomot bakwan jagung dan mulai mengunyahnya. Begitupun teman saya. Gigitan pertama. Gigitan kedua. Kemudian saya mengalihkan tatapan saya dari bakwan ke arah teman-saya-yang-juga-sedang-makan-bakwan. Teman saya balas menatap saya dengan tertawa setengah meringis sambil melirik bakwan jagung di tangannya.
Haha ternyata bukan saya saja yang merasakannya. Bakwan jagung ini aneh, rasanya ulet, tidak renyah. Kemudian dalamnya agak keras, dan jagungnya setengah gosong. Sampai sampai sebelumnya saya mengira itu bakwan kacang *emang ada?
Keanehan rasa bakwan itu terbukti dengan banyaknya bakwan yang tersisa, tidak ada yang mau membawanya pulang seperti biasanya.
Setelah mushola sudah lumayan sepi, kami bergosip tentang bakwan itu.
"Kasian ya nggak laku, tapi emang rasanya aneh sih"
"Iya, kayak belum matang gitu ya"
"Bukan belum matang, tapi ini kayaknya bukan dari gandum (tepung terigu) deh"
"Maklum, yang buat kan Bu X, udah tua juga"
"Iyasih mungkin keliru pake pati (tepung tapioka) ini haha ada ada saja"
Kemudian kami saling menunjuk untuk membawa pulang bakwan aneh ini. Intinya, tidak ada yang mau makan lagi setelah mencobanya tadi. Dan kami semakin terbahak ketika tadi ada Si Bu Y yang biasanya maruk (rakus) bawa makanan tiba tiba tidak mau sewaktu tau yang tersisa adalah bakwan jagung.
Kemudian saya teringat sesuatu dan saya langsung nyeletuk "Lhoh, padahal tadi si Bu X beli gandum di warung ibuku"
Semua langsung menoleh ke arahku dan serentak bilang "Paraaaah pasti kamu salah ngasih. Pasti kamu kira kamu ngasih gandum padahal itu pati" 
Yang lain menambahkan "Iyaaa dan Bu X kan sudah pikun jadi ya mana ngerti protes, mungkin dia juga nggak nyadar sampai sekarang"
Semua menertawakanku. Aku mati kutu.
Sampai dirumah karena penasaran aku langsung mengecek dan bertanya pada ibuku. Dan ternyata bener aku salah. Aku ngasihnya pati bukan gandum. Dan parahnya lagi, padahal ada tulisannya di kotaknya mana gandum mana pati.
Sok tau saya berakibat fatal. Cuma masalah sepele tapi efeknya.........
Kasian Bu X. Saya jadi merasa bersalah, padahal tadi saya juga ikut andil dalam menertawakan bakwan aneh itu.
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini adalah jangan sok tau, tanya kalau nggak tau, jadi orang yang teliti. Besoknya, saya langsung ke rumah Bu X buat minta maaf.
Oh iyaa ini nih bukti kalau mereka kembar
Tepung Terigu
Tepung Tapioka



Hampir sama kan sekilas? Sama kan? Beda sih sebenarnya ._.
Kemudian setelah saya tanya Om Google ternyata bedanya adalah tekstur gandum lebih lembut.

ps: pati itu sinonimnya tepung tapioka kan? atau saya sok tau lagi? :(

Friday, 5 July 2013

Pantai Kwaru

         Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Jam nganggur. Tidak ada yang dikerjakan. Akhirnya, saya dan teman teman sepengangguran memutuskan untuk pergi ke pantai. Karena sudah cukup sore, kami memilih untuk pergi ke pantai yang dekat saja. Dan karena kami berempat (saya, amik, lalak, febi) notabene adalah kaum hawa semua, kami memilih pantai yang medannya mudah. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Kwaru yang terletak di desa Poncosari, kecamatan Srandakan, kabupaten Bantul, DIY. Kami semua belum pernah ke pantai tersebut. Dengan bekal petunjuk arah dari teman saya, kami berangkat. Di jalan, kami banyak bertanya pada orang-orang agar tidak tersesat, seperti kata pepatah "males bertanya sesat di jalan", hehe. Setelah melewati perjalanan kurang lebih satu setengah jam dengan kecepatan standar, akhirnya kami tiba di pantai Kwaru.
        Jadi, rutenya adalah sbb: dari Malioboro lurus menuju perempatan (yang ada BNI nya) - belok kanan - pertigaan - lurus - perempatan - belok kiri - pertigaan - lurus - perempatan - lurus - perempatan nggak jelas (perempatan besar yang tidak rapi) - lurus - sampai di Jalan Bantul - lurus terus sampai menemukan perempatan Palbapang (melewati 8 lampu merah terhitung dengan lampu merah di perempatan Palbapang) - belok kanan - lurus saja menuju Srandakan sampai melihat jembatan Srandakan. Sebelum jembatan Srandakan belok kiri. Di sebelah kanan jalan akan ada petunjuk arah "Pantai Kwaru 6 km". Lurus saja mengikuti jalan, nanti akan ada persimpangan dengan petunjuk arah ke kanan Pantai Baru, ke kiri Pantai Kwaru. Ambil kiri, ikuti jalan dan akan ada pertigaan, kemudian belok kanan. Sampailah di Pantai Kwaru (tiket Rp. 5000,- /org). Jika bingung, tanya saja warga disana.
        Sampai disana, kami segera menjalankan ritual ala wisatawan, yaitu foto-foto dengan latar keindahan Pantai Kwaru. Meskipun kami agak kecewa karena pasirnya yang tidak istimewa (red: pasir hitam), tapi rasa kecewa kami terbayar dengan keunikan pantai Kwaru, yaitu adanya barisan pohon cemara di bibir pantai, Cemara Udang namanya. Konon pohon cemara itu adalah hasil jerih payah penduduk sekitar pantai tersebut. Fasilitas wisata yang disediakan antara lain adalah kolam renang, Motor ATV dengan harga sewa sekitar Rp. 25.000,- untuk 15 menit. Pantai Kwaru merupakan daerah Palung (jurang yang terletak di dasar laut). Disana ada papan peringatan bertuliskan "Daerah Palung air tenang menghanyutkan". Itulah yang menyebabkan kami tidak berani untuk bermain dengan ombak lebih jauh, sehingga kami memutuskan untuk jalan jalan menyusuri pantai, melewati barisan hutan pohon cemara sambil berfoto. Hutannya sangat cantik, cocok untuk diajak berfoto, hehe.
        Kami berjalan jauh sekali. Terkadang berhenti untuk sekedar menghiasi pasir pantai dengan tulisan kami. Kami berharap bisa melihat sunset, tapi apa daya setelah dipikir pikir sunset pasti akan tertutup oleh rerimbunan pohon cemara karena sebelah barat yang terlihat sejauh mata memandang adalah barisan cemara yang tak ada habisnya. Akhirnya setelah waktu menunjukkan 17.00 kami memutuskan untuk pulang. Kami bagaikan zombie yang sedang berjalan. Berbalik menuju tempat parkir dengan sisa sisa tenaga yang ada. Mungkin hanya lalak yang tidak merasa capek, karena rasa capeknya terlupakan gara gara sibuk menangkap kepiting. Kurang kerjaan memang. Katanya, untuk dibawa pulang ke kos. 
Setelah singgah di mushola, kami segera memulai perjalanan pulang. Akhirnya, jam 07.40 kami sampai di Pogung, tepatnya di rumah Mas Pri (langganan makan kami para anak kos).
Inilah sebagian foto foto kami
pasirnya nggak jelek jelek amat kan ?

ombak pantai
tulisannya ternodai TT
febi, lalak, ami
Sekian

Sekian
 

Maafkan kami yang pelupa ini, Pak

Rabu, 3 Juli 2013. Cerita bermula ketika saya mengantarkan teman saya ke Balai bla bla bla (lupa namanya) di daerah Kalasan dalam rangka pengambilan berkas untuk mengikuti test masuk STAN. Perjalanan dari kos saya menuju tempat tersebut berlangsung secara terburu buru karena kami berangkat mepet. Beruntung, sampai disana nomor antrian yang dipanggil baru 580, sedangkan nomor antrian teman saya (untuk selanjutnya, teman saya sebut saja Sri) adalah 590an. Hanya lima menit sampai akhirnya tiba giliran Sri. Setelah pengambilan berkas beres, kami segera cabut. Rencananya kami akan ke pantai. Tapi apa daya, di tengah perjalanan, hujan tiba tiba turun dengan amat derasnya. Benar benar -hujan di musim kemarau- yang menyebalkan.

Sunday, 12 May 2013

Dalam kehidupan, Tidak ada yang sia-sia

Sejatinya, dengan mengerti bahwa setiap potongan hidup itu penting, maka seseorang tidak akan banyak bertanya, kemudian menyesali setiap takdir-Nya.

Alkisah, hiduplah seorang Arab tua, renta, sakit sakitan. Selama delapan puluh tahun Arab tua itu tinggal di Oase gurun. Kehidupan Oase yang biasa biasa saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna. Tidak berarti.
"Berkali kali dia bertanya kepada dirinya sendiri, buat apa hidupnya yang begitu panjang kalau hanya

Sunday, 21 April 2013

Inspiring Movie: 3 Idiot

Ini niatnya pengen lah sekali sekali review film hehe. meskipun ini film jaman 2009 dan sekarang sudah 2013. Telat banget ya reviewnya? Wkwk
3 Idiot bukan seperti film india yang biasanya, yang cuma kebanyakan adegan nangis nggak penting dan nari nari sambil nyanyi nyanyi yang durasinya lama banget.
Jujur, film India bukan favoritku karena menurutku terlalu melankolis. Tapi ini beda, kawan. Aku udah menonton film ini lebih dari 3 kali. Tapi tetap dibuat tertawa lagi, terharu lagi, dan terkagum kagum lagi sama tokoh Rancho yang mengajarkan kita bahwa nilai akademik bukanlah segalanya, bahwa status tidaklah penting, karna yang terpenting adalah seberapa jauh ilmu yang kita dapat dan membuatnya bermanfaat bagi orang banyak.

Film ini menceritakan tentang 3 mahasiswa teknik mesin disuatu universitas terbaik di India. Mereka adalah Farhan (R. Madhavan), Raju (Sharman Joshi) dan Rancho (Amir Khan). Tiga orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Farhan yang selalu berada di peringkat akhir. Sebenarnya jiwa Farhan adalah fotografi, bukan teknik. Bukan bercita cita sebagai insinyur seperti keinginan ayahnya. Raju, mahasiswa yang lahir di keluarga yang miskin. Ayahnya terkena stroke sehingga setengah tubuhnya lumpuh, ibunya seorang pensiunan guru yang sisa hidup dan seluruh gajinya digunakan untuk mengurus suaminya, dan kakaknya perawan tua karena orang tuanya tidak mampu memberikan mas kawin untuk pengantin pria.
Rancho, mahasiswa yang unik, memiliki pola pikir berbeda tentang kuliah. Ketika teman-temannya yang lain berlomba-lomba mendapat nilai terbaik dan ijazah kuliah, Rancho kuliah karena benar benar ingin belajar untuk mendapatkan ilmu. Dan dia satu satunya mahasiswa yang tidak seperti robot yang hanya meng-iya-kan apa yang dikatakan dosen, alhasil Rancho sering dikeluarkan dari kelas dan nyaris membuat temannya juga dikeluarkan dari universitas karena kritikannya yang terlalu berani pada dosen.  
Virus adalah julukan bagi seorang rektor yang kolot, keras kepala dan tidak punya belas kasihan sehingga ditakuti dan menjadi musuh bagi para mahasiswa. Beliau juga keras terhadap anak anaknya, selalu memaksakan kehendaknya sehingga anak sulungnya bunuh diri karena ulahnya. Beliau juga ikut andil membuat mahasiswanya bunuh diri, suatu hal yang menurut Rancho adalah pembunuhan karena tekanan selama 4 tahun oleh Pak virus.
Ada juga Chatur, mahasiswa sombong dan selalu ingin menjadi nomor satu, bahkan menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Ia tidak dapat berbahasa India dengan baik. Suatu kali dia dipermalukan di depan umum karena ulah Rancho, sehingga dia menantang Rancho, Raju dan Farhan, untuk melihat 10 tahun kedepan siapa yang akan menjadi yang paling sukses.
Ada juga Phia (Kareena Kapoor), anak Pak Virus, ia jatuh cinta pada Rancho yang berhasil membuatnya membuka mata atas ketidaktulusan Suhas, pacarnya

Jujur, bagi saya ini adalah film India terbaik yang pernah saya tonton. Film ini kaya akan pesan moral khususnya dalam bidang pendidikan, karena problem yang dihadapi hampir sama dengan kenyataan yang digambarkan dalam film. Sang sutradara, Rajkumar Hirani menata alur film ini dengan baik. Meskipun alurnnya maju mundur, tapi tidak membingungkan. Hal ini membuat film ini tidak terasa membosankan karena selalu ada klimaks di tiap sudut ceritanya. Ada keceriaan disetiap tingkah konyol Rancho dan kawan-kawannya, ada kisah persahabatan yang mengharukan, ada kisah romantis, dan sekali lagi banyak amanat yang terkandung dalam film ini. Penasaran gimana cerita lengkapnya? Silahkan menonton.
Oh iya, banyak dialog dialog yang maknanya dalam dan menyentuh hati.
Ini dialog Rancho dengan salah satu dosen yang menyuruhnya keluar karena beliau tidak suka dengan Rancho yang memberikan definisi mesin dengan bahasanya sendiri, seakan menantang beliau yang notabene lebih menyukai definisi seperti yang ada di dalam buku.
D: Hei, knpa kau kmbali ?
R: Aku lupa sesuatu, Pak.
D: Apa?
R: instrument and record, analyse, summarize, organize, debate, and explanation tive and non elastative hard bound paper back jacketed non-jacketed with forward introduction, table of contents, index that are indented for the enlightenment, understanding enrichment enhancement and education of the human brain through sensory root of vision sometimes leisure.”
D: Apa yg barusan kau katakan ?
R: Buku, Pak. Saya lupa buku saya, boleh saya ambil?
D: Tak bisakah kau sederhanakan penjelasanmu?
R: Saya sdh melakukannya tapi anda tidak suka bhasa yg sdrhana. *patut dicontoh, pembaca :)

Jika kita mengerjakan proyek dari dia, siapa yang akan mengerjakan proyek kita? Test, PR, essay, ada 42 ujian tiap semester.
Ini diucapkan Farhan kepada Rancho yang ingin membantu menyelesaikan proyek seorang mahasiswa lain yang diancam tidak lulus oleh Virus. Terkadang kita terlalu fokus pada tugas tugas yang diberikan kepada kita sehingga lupa pada kepedulian terhadap lingkungan sekitar, lupa pada masalah yang dihadapi orang lain yang membutuhkan bantuan kita, padahal sebenarnya hal tersebut juga penting.

Semua orang akan berfikir ini bunuh diri, Pak. Penyebab kematian yang ditulis adalah tekanan hebat di rongga pernafasan menyebabkan sesak. Bodoh sekali mempercayainya. Mati tercekik, disini (menunjuk leher). Padahal selama 4 tahun tertekan disini (menunjuk otak). Para mahasiswa punya hati, Pak. Bukan mesin yang bisa terus menerus menahan tekanan disini. Andai memahami, mereka akan tahu, ini bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan. 
Ini diucapkan Rancho ketika salah seorang mahasiswa bunuh diri karena tidak diluluskan oleh Virus karena terlambat mengumpulkan proyek, padahal hal ini dikarenakan ayahnya sakit, tetapi Virus tidak mau memberikan tambahan waktu, tidak mau tahu dan tidak memiliki empati serta toleransi.

Ketika kau bersamanya, pernahkah kau merasa ada angin berhembus dan bumi bergerak lebih lambat? atau bulan terlihat lebih besar di langit? Saat kau mencintai seseorang, semua itu akan terjadi. Dialog ini diucapkan Rancho pada Phia, kalau dipikir pikir lebay, tapi memang kenyataannya seperti itu. Karena jatuh cinta memang bisa membuat orang menjadi yah Kau Tau Apa, kan? hehe.

Nasihat Rancho pada Farhan:
Kau tahu kenapa aku selalu juara? Karena aku mencintai mesin. Mekanika adalah jiwaku

Tahukah kau, apa jiwamu, Farhan? 5 tahun lalu, menulis surat untuk “Wild Life Photographer”. Ingin mendatanginya, ke Hunggaria, belajar dan bekerja bersamanya! Tapi karena takut pada ayah, yang lebih mirip Hitler, tidak pernah mengirimkan surat ini. Heii.. Berhentilah jadi insinyur.. Jadilah Wild Life Photographer!
Jalani pekerjaan yang kau kuasai. Jika saja bapaknya Mariah Carey menyuruh dia untuk menjadi insinyur atau bapaknya Jet Lee menyuruh dia untuk menjadi penyanyi, coba bayangkan akan jadi apa mereka hari ini. Kau mencintai binatang, tapi menikahi mesin!”
Raju: “Pacarku, istriku, mereka berdua adalah insinyur semua. Kenapa nilaiku selalu buruk, kenapa?”
Rancho: “Karena kau penakut! Penakut! Lihat ini, lihat tangannya. Cincinnya lebih banyak dibanding jari yang dia punya. Satu untuk ujian, satu untuk pernikahan kakak, dan satu lagi untuk pekerjaan. Jika kau terlalu takut pada masa depanmu, kau pikir kau bisa hidup? Apa fokusmu?”
Nah dari sini membuat kita sadar bahwa mengenal bakat diri sendiri itu penting, agar nantinya kita bisa mencintai pekerjaan kita. Dan apapun yang terjadi, jangan pernah takut untuk bermimpi.

Kami memahami satu lagi tingkah laku manusia. Jika temanmu  gagal,  kau akan merasa sedih. Tapi jika temanmu menjadi yang terbaik, kau akan lebih sedih.
Wkwkwk terkadang memang benar. Jangan iri, berikanlah pujian serta dukungan.

Ini juga bagus.
Semestinya hasil tes bukanlah sebuah pengumuman. Mengapa kita memperlihatkan kelemahan seseorang di muka umum? Begini, Pak.. Jika saat tes darah, haemoglobin anda ternyata rendah, akankah dokter memberi obat, atau menampilkanmu di TV? Tingkatan akan menciptakan perpecahan. Coba bayangkan.. Jika aku menjadi juara pertama, aku duduk di sampingmu. Maka temanku yang paling akhir, dia akan duduk di pojok.
Nah, ini juga mengharukan pembaca, saat Farhan memberanikan diri untuk berbicara pada ayahnya, bahwa ia benar benar ingin menjadi fotografer.
Rancho yang ayah katakan setan itu. Dia memaksaku menaruh foto ayah dan ibu disini. Dia bilang,”Berjanjilah padaku, jika terlintas pikiran bodoh di otakmu, pandangilah foto ini dan bayangkan apa yang akan terjadi pada senyuim mereka jika kau mati. Ayah, aku ingin meyakinkanmu. Tapi tidak dengan mmengancam akan bunuh diri. Jika aku nanti menjadi photographer, kemudian gajiku sedikit, rumahku kecil, mobilku kecil, namun aku akan bahagia ayah”

Dan masih banyak lagi. Sekian.