Monday, 29 July 2013

Bedanya Kuliah dan Sekolah (Tips Sukses di Kampus) #2

Mungkin ketika SMA, kita iri melihat tetangga sebelah yang berstatus mahasiswa. Dia berangkat kuliah tak perlu pagi pagi buta, baju bebas, bahkan terkadang tidak berangkat kuliah sama sekali. Padahal setelah kuliah, kadang kita iri melihat anak SMA. Ya, itulah manusia haha
Sebelum mulai mengatur strategi sukses kuliah, kita perlu tahu medan tempur kita. Inilah perbedaan esensial antara belajar di SMA dan di Perguruan Tinggi
Tanggung Jawab Lebih Besar
Di SMA, hampir seluruh waktu belajar kita di sekolah sudah ditentukan. Intinya, wajib hadir di kelas pada semua mata pelajaran yang berlangsung pada jam yang hampir sama setiap hari. Istilahnya, tinggal ngikut lah
Di universitas, tidak semua dosen mewajibkan mahasiswa hadir. Terserah mau datang atau tidak. Meskipun tetap ada batas kehadiran minimum. Tapi jangan buru buru memutuskan hanya masuk saat ujian. Percayalah, kita akan ketinggalan banyak sekali kalau jarang masuk.

Wednesday, 10 July 2013

Bakwan Jagung dari Tepung Tapioka

Saya mau sedikit berbagi cerita nih pembaca. Bukan cerita tentang bagaimana resep membuat bakwan dari tepung tapioka. Bukan penemuan resep masakan baru. Ini tentang kekonyolanku, atau sebut saja kebodohanku juga boleh, hehe.
Malam ini malam terawih kedua di bulan ramadhan tahun ini. Kebetulan saya sedang ada dirumah. Libur, sedang tidak ada kegiatan kampus. Seperti biasa saya dan tetangga-tetangga melaksanakan ibadah terawih bersama di mushola desa kami. Setelah sholat terawih usai, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus bersama. Buat yang tidak tahu, tadarus itu mengaji atau membaca Al Quran bersama-sama. Nah, setelah selesai tadarus ada yang namanya jaburan. Jaburan itu makan makanan kecil usai terawih dan tadarus. Jadi, setiap rumah pada hari tertentu mendapat bagian untuk mengirimkan makanan tiap malamnya.
Malam ini, ada yang membawa tempe goreng, ketela, gondang gandug, dan bakwan jagung.
Sembari mengobrol saya mencomot bakwan jagung dan mulai mengunyahnya. Begitupun teman saya. Gigitan pertama. Gigitan kedua. Kemudian saya mengalihkan tatapan saya dari bakwan ke arah teman-saya-yang-juga-sedang-makan-bakwan. Teman saya balas menatap saya dengan tertawa setengah meringis sambil melirik bakwan jagung di tangannya.
Haha ternyata bukan saya saja yang merasakannya. Bakwan jagung ini aneh, rasanya ulet, tidak renyah. Kemudian dalamnya agak keras, dan jagungnya setengah gosong. Sampai sampai sebelumnya saya mengira itu bakwan kacang *emang ada?
Keanehan rasa bakwan itu terbukti dengan banyaknya bakwan yang tersisa, tidak ada yang mau membawanya pulang seperti biasanya.
Setelah mushola sudah lumayan sepi, kami bergosip tentang bakwan itu.
"Kasian ya nggak laku, tapi emang rasanya aneh sih"
"Iya, kayak belum matang gitu ya"
"Bukan belum matang, tapi ini kayaknya bukan dari gandum (tepung terigu) deh"
"Maklum, yang buat kan Bu X, udah tua juga"
"Iyasih mungkin keliru pake pati (tepung tapioka) ini haha ada ada saja"
Kemudian kami saling menunjuk untuk membawa pulang bakwan aneh ini. Intinya, tidak ada yang mau makan lagi setelah mencobanya tadi. Dan kami semakin terbahak ketika tadi ada Si Bu Y yang biasanya maruk (rakus) bawa makanan tiba tiba tidak mau sewaktu tau yang tersisa adalah bakwan jagung.
Kemudian saya teringat sesuatu dan saya langsung nyeletuk "Lhoh, padahal tadi si Bu X beli gandum di warung ibuku"
Semua langsung menoleh ke arahku dan serentak bilang "Paraaaah pasti kamu salah ngasih. Pasti kamu kira kamu ngasih gandum padahal itu pati" 
Yang lain menambahkan "Iyaaa dan Bu X kan sudah pikun jadi ya mana ngerti protes, mungkin dia juga nggak nyadar sampai sekarang"
Semua menertawakanku. Aku mati kutu.
Sampai dirumah karena penasaran aku langsung mengecek dan bertanya pada ibuku. Dan ternyata bener aku salah. Aku ngasihnya pati bukan gandum. Dan parahnya lagi, padahal ada tulisannya di kotaknya mana gandum mana pati.
Sok tau saya berakibat fatal. Cuma masalah sepele tapi efeknya.........
Kasian Bu X. Saya jadi merasa bersalah, padahal tadi saya juga ikut andil dalam menertawakan bakwan aneh itu.
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini adalah jangan sok tau, tanya kalau nggak tau, jadi orang yang teliti. Besoknya, saya langsung ke rumah Bu X buat minta maaf.
Oh iyaa ini nih bukti kalau mereka kembar
Tepung Terigu
Tepung Tapioka



Hampir sama kan sekilas? Sama kan? Beda sih sebenarnya ._.
Kemudian setelah saya tanya Om Google ternyata bedanya adalah tekstur gandum lebih lembut.

ps: pati itu sinonimnya tepung tapioka kan? atau saya sok tau lagi? :(

Friday, 5 July 2013

Pantai Kwaru

         Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Jam nganggur. Tidak ada yang dikerjakan. Akhirnya, saya dan teman teman sepengangguran memutuskan untuk pergi ke pantai. Karena sudah cukup sore, kami memilih untuk pergi ke pantai yang dekat saja. Dan karena kami berempat (saya, amik, lalak, febi) notabene adalah kaum hawa semua, kami memilih pantai yang medannya mudah. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Kwaru yang terletak di desa Poncosari, kecamatan Srandakan, kabupaten Bantul, DIY. Kami semua belum pernah ke pantai tersebut. Dengan bekal petunjuk arah dari teman saya, kami berangkat. Di jalan, kami banyak bertanya pada orang-orang agar tidak tersesat, seperti kata pepatah "males bertanya sesat di jalan", hehe. Setelah melewati perjalanan kurang lebih satu setengah jam dengan kecepatan standar, akhirnya kami tiba di pantai Kwaru.
        Jadi, rutenya adalah sbb: dari Malioboro lurus menuju perempatan (yang ada BNI nya) - belok kanan - pertigaan - lurus - perempatan - belok kiri - pertigaan - lurus - perempatan - lurus - perempatan nggak jelas (perempatan besar yang tidak rapi) - lurus - sampai di Jalan Bantul - lurus terus sampai menemukan perempatan Palbapang (melewati 8 lampu merah terhitung dengan lampu merah di perempatan Palbapang) - belok kanan - lurus saja menuju Srandakan sampai melihat jembatan Srandakan. Sebelum jembatan Srandakan belok kiri. Di sebelah kanan jalan akan ada petunjuk arah "Pantai Kwaru 6 km". Lurus saja mengikuti jalan, nanti akan ada persimpangan dengan petunjuk arah ke kanan Pantai Baru, ke kiri Pantai Kwaru. Ambil kiri, ikuti jalan dan akan ada pertigaan, kemudian belok kanan. Sampailah di Pantai Kwaru (tiket Rp. 5000,- /org). Jika bingung, tanya saja warga disana.
        Sampai disana, kami segera menjalankan ritual ala wisatawan, yaitu foto-foto dengan latar keindahan Pantai Kwaru. Meskipun kami agak kecewa karena pasirnya yang tidak istimewa (red: pasir hitam), tapi rasa kecewa kami terbayar dengan keunikan pantai Kwaru, yaitu adanya barisan pohon cemara di bibir pantai, Cemara Udang namanya. Konon pohon cemara itu adalah hasil jerih payah penduduk sekitar pantai tersebut. Fasilitas wisata yang disediakan antara lain adalah kolam renang, Motor ATV dengan harga sewa sekitar Rp. 25.000,- untuk 15 menit. Pantai Kwaru merupakan daerah Palung (jurang yang terletak di dasar laut). Disana ada papan peringatan bertuliskan "Daerah Palung air tenang menghanyutkan". Itulah yang menyebabkan kami tidak berani untuk bermain dengan ombak lebih jauh, sehingga kami memutuskan untuk jalan jalan menyusuri pantai, melewati barisan hutan pohon cemara sambil berfoto. Hutannya sangat cantik, cocok untuk diajak berfoto, hehe.
        Kami berjalan jauh sekali. Terkadang berhenti untuk sekedar menghiasi pasir pantai dengan tulisan kami. Kami berharap bisa melihat sunset, tapi apa daya setelah dipikir pikir sunset pasti akan tertutup oleh rerimbunan pohon cemara karena sebelah barat yang terlihat sejauh mata memandang adalah barisan cemara yang tak ada habisnya. Akhirnya setelah waktu menunjukkan 17.00 kami memutuskan untuk pulang. Kami bagaikan zombie yang sedang berjalan. Berbalik menuju tempat parkir dengan sisa sisa tenaga yang ada. Mungkin hanya lalak yang tidak merasa capek, karena rasa capeknya terlupakan gara gara sibuk menangkap kepiting. Kurang kerjaan memang. Katanya, untuk dibawa pulang ke kos. 
Setelah singgah di mushola, kami segera memulai perjalanan pulang. Akhirnya, jam 07.40 kami sampai di Pogung, tepatnya di rumah Mas Pri (langganan makan kami para anak kos).
Inilah sebagian foto foto kami
pasirnya nggak jelek jelek amat kan ?

ombak pantai
tulisannya ternodai TT
febi, lalak, ami
Sekian

Sekian
 

Maafkan kami yang pelupa ini, Pak

Rabu, 3 Juli 2013. Cerita bermula ketika saya mengantarkan teman saya ke Balai bla bla bla (lupa namanya) di daerah Kalasan dalam rangka pengambilan berkas untuk mengikuti test masuk STAN. Perjalanan dari kos saya menuju tempat tersebut berlangsung secara terburu buru karena kami berangkat mepet. Beruntung, sampai disana nomor antrian yang dipanggil baru 580, sedangkan nomor antrian teman saya (untuk selanjutnya, teman saya sebut saja Sri) adalah 590an. Hanya lima menit sampai akhirnya tiba giliran Sri. Setelah pengambilan berkas beres, kami segera cabut. Rencananya kami akan ke pantai. Tapi apa daya, di tengah perjalanan, hujan tiba tiba turun dengan amat derasnya. Benar benar -hujan di musim kemarau- yang menyebalkan.

Sunday, 12 May 2013

Dalam kehidupan, Tidak ada yang sia-sia

Sejatinya, dengan mengerti bahwa setiap potongan hidup itu penting, maka seseorang tidak akan banyak bertanya, kemudian menyesali setiap takdir-Nya.

Alkisah, hiduplah seorang Arab tua, renta, sakit sakitan. Selama delapan puluh tahun Arab tua itu tinggal di Oase gurun. Kehidupan Oase yang biasa biasa saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna. Tidak berarti.
"Berkali kali dia bertanya kepada dirinya sendiri, buat apa hidupnya yang begitu panjang kalau hanya

Sunday, 21 April 2013

Inspiring Movie: 3 Idiot

Ini niatnya pengen lah sekali sekali review film hehe. meskipun ini film jaman 2009 dan sekarang sudah 2013. Telat banget ya reviewnya? Wkwk
3 Idiot bukan seperti film india yang biasanya, yang cuma kebanyakan adegan nangis nggak penting dan nari nari sambil nyanyi nyanyi yang durasinya lama banget.
Jujur, film India bukan favoritku karena menurutku terlalu melankolis. Tapi ini beda, kawan. Aku udah menonton film ini lebih dari 3 kali. Tapi tetap dibuat tertawa lagi, terharu lagi, dan terkagum kagum lagi sama tokoh Rancho yang mengajarkan kita bahwa nilai akademik bukanlah segalanya, bahwa status tidaklah penting, karna yang terpenting adalah seberapa jauh ilmu yang kita dapat dan membuatnya bermanfaat bagi orang banyak.

Film ini menceritakan tentang 3 mahasiswa teknik mesin disuatu universitas terbaik di India. Mereka adalah Farhan (R. Madhavan), Raju (Sharman Joshi) dan Rancho (Amir Khan). Tiga orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Farhan yang selalu berada di peringkat akhir. Sebenarnya jiwa Farhan adalah fotografi, bukan teknik. Bukan bercita cita sebagai insinyur seperti keinginan ayahnya. Raju, mahasiswa yang lahir di keluarga yang miskin. Ayahnya terkena stroke sehingga setengah tubuhnya lumpuh, ibunya seorang pensiunan guru yang sisa hidup dan seluruh gajinya digunakan untuk mengurus suaminya, dan kakaknya perawan tua karena orang tuanya tidak mampu memberikan mas kawin untuk pengantin pria.
Rancho, mahasiswa yang unik, memiliki pola pikir berbeda tentang kuliah. Ketika teman-temannya yang lain berlomba-lomba mendapat nilai terbaik dan ijazah kuliah, Rancho kuliah karena benar benar ingin belajar untuk mendapatkan ilmu. Dan dia satu satunya mahasiswa yang tidak seperti robot yang hanya meng-iya-kan apa yang dikatakan dosen, alhasil Rancho sering dikeluarkan dari kelas dan nyaris membuat temannya juga dikeluarkan dari universitas karena kritikannya yang terlalu berani pada dosen.  
Virus adalah julukan bagi seorang rektor yang kolot, keras kepala dan tidak punya belas kasihan sehingga ditakuti dan menjadi musuh bagi para mahasiswa. Beliau juga keras terhadap anak anaknya, selalu memaksakan kehendaknya sehingga anak sulungnya bunuh diri karena ulahnya. Beliau juga ikut andil membuat mahasiswanya bunuh diri, suatu hal yang menurut Rancho adalah pembunuhan karena tekanan selama 4 tahun oleh Pak virus.
Ada juga Chatur, mahasiswa sombong dan selalu ingin menjadi nomor satu, bahkan menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Ia tidak dapat berbahasa India dengan baik. Suatu kali dia dipermalukan di depan umum karena ulah Rancho, sehingga dia menantang Rancho, Raju dan Farhan, untuk melihat 10 tahun kedepan siapa yang akan menjadi yang paling sukses.
Ada juga Phia (Kareena Kapoor), anak Pak Virus, ia jatuh cinta pada Rancho yang berhasil membuatnya membuka mata atas ketidaktulusan Suhas, pacarnya

Jujur, bagi saya ini adalah film India terbaik yang pernah saya tonton. Film ini kaya akan pesan moral khususnya dalam bidang pendidikan, karena problem yang dihadapi hampir sama dengan kenyataan yang digambarkan dalam film. Sang sutradara, Rajkumar Hirani menata alur film ini dengan baik. Meskipun alurnnya maju mundur, tapi tidak membingungkan. Hal ini membuat film ini tidak terasa membosankan karena selalu ada klimaks di tiap sudut ceritanya. Ada keceriaan disetiap tingkah konyol Rancho dan kawan-kawannya, ada kisah persahabatan yang mengharukan, ada kisah romantis, dan sekali lagi banyak amanat yang terkandung dalam film ini. Penasaran gimana cerita lengkapnya? Silahkan menonton.
Oh iya, banyak dialog dialog yang maknanya dalam dan menyentuh hati.
Ini dialog Rancho dengan salah satu dosen yang menyuruhnya keluar karena beliau tidak suka dengan Rancho yang memberikan definisi mesin dengan bahasanya sendiri, seakan menantang beliau yang notabene lebih menyukai definisi seperti yang ada di dalam buku.
D: Hei, knpa kau kmbali ?
R: Aku lupa sesuatu, Pak.
D: Apa?
R: instrument and record, analyse, summarize, organize, debate, and explanation tive and non elastative hard bound paper back jacketed non-jacketed with forward introduction, table of contents, index that are indented for the enlightenment, understanding enrichment enhancement and education of the human brain through sensory root of vision sometimes leisure.”
D: Apa yg barusan kau katakan ?
R: Buku, Pak. Saya lupa buku saya, boleh saya ambil?
D: Tak bisakah kau sederhanakan penjelasanmu?
R: Saya sdh melakukannya tapi anda tidak suka bhasa yg sdrhana. *patut dicontoh, pembaca :)

Jika kita mengerjakan proyek dari dia, siapa yang akan mengerjakan proyek kita? Test, PR, essay, ada 42 ujian tiap semester.
Ini diucapkan Farhan kepada Rancho yang ingin membantu menyelesaikan proyek seorang mahasiswa lain yang diancam tidak lulus oleh Virus. Terkadang kita terlalu fokus pada tugas tugas yang diberikan kepada kita sehingga lupa pada kepedulian terhadap lingkungan sekitar, lupa pada masalah yang dihadapi orang lain yang membutuhkan bantuan kita, padahal sebenarnya hal tersebut juga penting.

Semua orang akan berfikir ini bunuh diri, Pak. Penyebab kematian yang ditulis adalah tekanan hebat di rongga pernafasan menyebabkan sesak. Bodoh sekali mempercayainya. Mati tercekik, disini (menunjuk leher). Padahal selama 4 tahun tertekan disini (menunjuk otak). Para mahasiswa punya hati, Pak. Bukan mesin yang bisa terus menerus menahan tekanan disini. Andai memahami, mereka akan tahu, ini bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan. 
Ini diucapkan Rancho ketika salah seorang mahasiswa bunuh diri karena tidak diluluskan oleh Virus karena terlambat mengumpulkan proyek, padahal hal ini dikarenakan ayahnya sakit, tetapi Virus tidak mau memberikan tambahan waktu, tidak mau tahu dan tidak memiliki empati serta toleransi.

Ketika kau bersamanya, pernahkah kau merasa ada angin berhembus dan bumi bergerak lebih lambat? atau bulan terlihat lebih besar di langit? Saat kau mencintai seseorang, semua itu akan terjadi. Dialog ini diucapkan Rancho pada Phia, kalau dipikir pikir lebay, tapi memang kenyataannya seperti itu. Karena jatuh cinta memang bisa membuat orang menjadi yah Kau Tau Apa, kan? hehe.

Nasihat Rancho pada Farhan:
Kau tahu kenapa aku selalu juara? Karena aku mencintai mesin. Mekanika adalah jiwaku

Tahukah kau, apa jiwamu, Farhan? 5 tahun lalu, menulis surat untuk “Wild Life Photographer”. Ingin mendatanginya, ke Hunggaria, belajar dan bekerja bersamanya! Tapi karena takut pada ayah, yang lebih mirip Hitler, tidak pernah mengirimkan surat ini. Heii.. Berhentilah jadi insinyur.. Jadilah Wild Life Photographer!
Jalani pekerjaan yang kau kuasai. Jika saja bapaknya Mariah Carey menyuruh dia untuk menjadi insinyur atau bapaknya Jet Lee menyuruh dia untuk menjadi penyanyi, coba bayangkan akan jadi apa mereka hari ini. Kau mencintai binatang, tapi menikahi mesin!”
Raju: “Pacarku, istriku, mereka berdua adalah insinyur semua. Kenapa nilaiku selalu buruk, kenapa?”
Rancho: “Karena kau penakut! Penakut! Lihat ini, lihat tangannya. Cincinnya lebih banyak dibanding jari yang dia punya. Satu untuk ujian, satu untuk pernikahan kakak, dan satu lagi untuk pekerjaan. Jika kau terlalu takut pada masa depanmu, kau pikir kau bisa hidup? Apa fokusmu?”
Nah dari sini membuat kita sadar bahwa mengenal bakat diri sendiri itu penting, agar nantinya kita bisa mencintai pekerjaan kita. Dan apapun yang terjadi, jangan pernah takut untuk bermimpi.

Kami memahami satu lagi tingkah laku manusia. Jika temanmu  gagal,  kau akan merasa sedih. Tapi jika temanmu menjadi yang terbaik, kau akan lebih sedih.
Wkwkwk terkadang memang benar. Jangan iri, berikanlah pujian serta dukungan.

Ini juga bagus.
Semestinya hasil tes bukanlah sebuah pengumuman. Mengapa kita memperlihatkan kelemahan seseorang di muka umum? Begini, Pak.. Jika saat tes darah, haemoglobin anda ternyata rendah, akankah dokter memberi obat, atau menampilkanmu di TV? Tingkatan akan menciptakan perpecahan. Coba bayangkan.. Jika aku menjadi juara pertama, aku duduk di sampingmu. Maka temanku yang paling akhir, dia akan duduk di pojok.
Nah, ini juga mengharukan pembaca, saat Farhan memberanikan diri untuk berbicara pada ayahnya, bahwa ia benar benar ingin menjadi fotografer.
Rancho yang ayah katakan setan itu. Dia memaksaku menaruh foto ayah dan ibu disini. Dia bilang,”Berjanjilah padaku, jika terlintas pikiran bodoh di otakmu, pandangilah foto ini dan bayangkan apa yang akan terjadi pada senyuim mereka jika kau mati. Ayah, aku ingin meyakinkanmu. Tapi tidak dengan mmengancam akan bunuh diri. Jika aku nanti menjadi photographer, kemudian gajiku sedikit, rumahku kecil, mobilku kecil, namun aku akan bahagia ayah”

Dan masih banyak lagi. Sekian.

Friday, 29 March 2013

AKU vs POLISI

Lagi pengen curhat nih.
Konon saat SMA saya suebel (red: sangat amat sebel setengah mati banget) sama yang namanya polisi. Sering banget ditilang soalnya. Iyasih melanggar rambu-rambu emang salah, tapi yang bikin saya sebel, polisi itu kalo nilang pilih-pilih, nepotisme, dan nggak fair. Contohnya nih, kebetulan yang ditilang adalah tetangganya-si-polisi. pasti nggak jadi ditilang. Nah, kasian dong yang nggak punya tetangga polisi semacam saya. Contoh lain, punya kenalan Mr.X yang notabene adalah atasannya-si-polisi-yang-nilang, biasanya juga nggak jadi ditilang. Ada juga polisi yang aneh banget. Jadi, dulu bapaknya temen saya ditilang, tapi begitu dia mau ngeluarin dompet sehingga dia membuka jaketnya,  seragam PNSnya pun nampang, eh masak jadi gak-jdi-ditilang. Sejak kapan polisi takut PNS? Terus ada lagi yang lebih parah, dosennya kakak saya kena tilang, tapi lagi-lagi nggak jadi. Intinya sih gara-gara dia debat sampai akhirnya dia ngeluarin kartu anggota ikatan sarjana hukum indonesia. Entah mungkin polisinya salah pasal terus ketahuan atau gimana saya kurang tahu.
Dulu waktu awal-awal naik motor dan tentunya masih belum expert,  ada lampu merah eh maen bablas aja *belum terbiasa di jalan raya soalnya, jadi lupa kalo lampu merah itu harusnya berhenti haha, tapi beruntung nggak ada pak polisi. Pertama kali ditilang gara-garanya harusnya saya ikutin lampu merah kalo belok tapi mindset saya udah terlanjur "ke kiri jalan terus'', jadilah akhirnya bablas. Ini pengalaman paling konyol sepanjang saya ditilang. Saya waktu itu acting, pura-pura nangis hahaha, lagi bokek banget soalnya *malu-maluin emang, maklum lah ya masih SMA. Kan cowok biasanya nggak tega liat cewek nangis dan alhasil dendanya turun jadi 20ribu hahaha. Malu-maluin emang, kalau sekarang ya mendingan bayar lah.
Yang kedua kalinya waktu jalan-jalan ke Temanggung, di sana emang rajin banget ada operasi, tapi saya sih biasa saja orang sim stnk juga lengkap. Nah makanya nggak nyangka juga kalo bakal di stop sama pak polisi, dengan kata lain ditilang. Katanya saya melanggar pasal bla bla bla soalnya nggak menyalakan lampu. Syok banget saya dengernya. Kenapa? karena saya menyalakan lampu pemirsaa. Terus pak polisinya bilang "yang dinyalain harusnya lampu utama, bukan lampu kota ya." Jadi, di motor jupiter-z yang bukan model sekarang kan ada lampu kota sama lampu utama. Kalau lampu utama buat malem aja biasanya. Padahal kalau di magelang juga fine-fine aja pake lampu kota. Atau karena Temanggung bukan kota? -_____-
Peristiwa itulah yang akhirnya membawa saya untuk menghadapi sidang untuk pertama kalinya. Berhubung kalau ditilang saya nggak berani bilang ortu, jadi kalau sidang ya sidang sendiri. Siang hari saat masih jam sekolah saya buat surat ijin pulang *biasanya ijin nggak ikut pelajaran kan gara-gara sakit, ikut lomba, acara keluarga atau apa kek, ini malah alesannya mau sidang, langka abis.
Jeng - jeeng. Ternyata antriannya di luar dugaan, untungnya saya nggak sendirian waktu itu *"baik" banget temen saya mau nemenin bolos. Saya antrian ke enam ratus sekian *gila  banyak banget, asal uangnya jangan cuma dimakan polisi aja lah hehe.
Yang ketiga saya ditilang karena melanggar lampu merah. Katanya pak polisinya sih. Catet. Cuma katanya. Padahal jelas banget lampunya itu masih KUNING, yang bonceng saya saksinya. Eh itu polisi seenaknya aja bilang lampunya udah merah. Ngeselin banget pokoknya. Sampai-sampai main ancam mau disita motornya gara-gara saya ngeyel. Apa hubungannya? tapi waktu itu saya tetep aja takutlah, namanya juga masih anak SMA. Akhirnya saya keluarin selembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai sambil saya banting di mejanya. "Yaudah nih pak nggak usah pake sidang, saya nggak peduli uangnya masuk kemana." Habis itu saya langsung pergi tanpa menoleh. Mungkin emang lagi butuh banget uang kali, maklum tanggal tua.
Yang keempat saya ditilang soalnya nggak bawa SIM. Bukan nggak bawa sih, tepatnya belum punya hehehe. Waktu itu saya emang belum punya SIM tapi pengen banget ke sekolah bawa motor jadinya ya nekat, eh lagi apes aja pas ada operasi.
Yang kelima agak ekstrim nih. Waktu itu saya nggak bawa helm, nggak bawa SIM dan STNK juga. Emang sih pertamanya nggak berniat lewat jalan raya tapi tiba-tiba iseng aja pengen lewat jalan raya. Biasanya juga nggak ada polisi, jadi tenang-tenang saja. Tapi ya mungkin lagi nggak beruntung aja saya-nya. Pokoknya singkat cerita saya nabrak truk. Itu kecelakaan yang konyol banget. Misal ada yang tanya. "Eh si irna kenapa sih kok nggak masuk?" ."Iya dia kecelakaan abis nabrak truk kemarin". "Yaampun kasian, kok bisa sih?". "Iya, padahal truk berhenti lho, kok bisa-bisanya ditabrak". "Hah?hahahahaha kok bisa sih parah banget tuh orang". Kira-kira seperti itu. Jadi yang tadinya penuh muka prihatin langsung ketawa begitu tau yang saya tabrak itu truk BERHENTI. Nah apalagi kalo mereka jenguk saya terus liat muka saya yang amburadul ditambah dengan gigi ilang satu, semakin tambah aja kadar ngakaknya -__- *meskipun mungkin cuma sebatas tega ketawa dalam hati*. Nahh waktu itu di tempat saya jatuh ada pak polisi. Anehnya si polisi nggak langsung nolongin, yang nolongin itu malah tetangga saya sama tukang jamu. Polisinya mungkin asik mengamati saya ngelakuin pelanggaran apa aja ya? SIM STNK lengkap nggak ya? kok nggak pakai helm ya? lumayan nih. Daaaan singkat cerita, motor saya langsung disita. Udah jatuh ketimpa gajah bengkak lah intinya. Untungnya temennya bapak saya yang kepala samsat bisa bebasin motor saya tanpa denda apapun #astaghfirullah nepotisme lagi. Maafin. Kali ini saya terlibat :""
Terus yang keberapa kalinya lagi waktu saya ke Temanggung (lagi). Emang bawaannya sial aja kalau ke Temanggung. Berhubung belum terbiasa keluyuran di Temanggung saya masih agak bingung sama tata jalan disana. Nah waktu itu jalan searah saya kira dua arah, jadinya saya melawan arus. Waktu udah nyadar saya panik banget. Langsung tanpa ba bi bu muter balik motor, tapi susah banget soalnya jalannya rame. Pas udah hampir berhasil muter tiba-tiba ada polisi lewat. Jaelangkung bener sumpah, datang tak diundang. Pos polisi perasaan jauh banget dari situ. Bisa-bisanya ada polisi lewat, langsung deh dibuatin kartu denda suruh sidang tanggal sekian bla bla bla. *bete banget udah usaha puter balik juga tetep aja ketauan kan gondok banget rasanya hahaha. Terus setelah saya melakukan beberapa pembelaan si polisinya akhirnya bilang "yaudah kalo gitu didenda 10ribu aja ini saya tulis disini". 
Waktu sidang trnyata tetep 50ribu. PHP banget. Ternyata saya dikibulin sama si polisi. Jadi dia nulis 10ribunya itu cuma pura-pura, ternyata realnya dia nulis di kolom waktu 10.00, nah saya liatnya sekilas 10ribu orang polisinya juga bilang gitu,pfft. Terus saya nyoba buat lobi, mengadukan kelakuan polisi itu sambil bilang "Pak, bapaknya kemarin bilang 10 ribu, saya bawa uang juga sekitar itu, jadi bukan salah saya kalau saya nggak bawa uang 50ribu *ngeles doang sih ini*, rumah saya jauh, saya ngantri juga udah panjang." Tiba-tiba seorang bapak di belakang saya menyahut "Yaudah pak, punya adek ini saya bayar sekalian punya saya aja tidak apa-apa." dan herannya Si polisi malah bilang "nggak usah repot repot pak biar saya tangani, ayo dek ikut saya ke ruang saya". Yang saya heran  polisinya tinggal bilang iya kan nggak masalah, kelar urusan, input yang didapat juga sama, daripada harus repot-repot menangani saya. Dan akhirnya setelah bermenit menit di ruangan berdebat, jadinya 10ribu, haha puas deh.
Naaah sampai sekarang tiap di jalan ada polisi saya dag dig dug, efek trauma kali ya hahahaha bahkan lampu kuning pun terkadang saya berhenti, sampai sering diketawain temen saya, terlampau tertib -__-