Saturday, 5 March 2016

Sedikit Cerita Tentang Tugas Akhir

Lagi stress T4 nih butuh curhat hahaha padahal baru berapa hari ngerjain wkwk. Dosa masa lalu, dulu kalau kuliah terus nggak mudeng ya cuma “yaudah” aja, hafal aja rumus waktu ujian. Jadi, buat yang masih di semester awal, tambahlah keingintahuan dan banyaklah bertanya. Rasanya semacam belajar dari nol sewaktu TA, terlalu banyak pertanyaan dan bingung mau tanya sama siapa, ngerjain TA jadinya lebih lama dari seharusnya karena yang dipelajari selama ini kebanyakan cuma numpang lewat. Kayaknya kalaupun dalam sehari waktunya lebih dominan untuk TA tetep aja nggak ada kelarnya. Kecuali, kalau asal kelar. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Terlalu lama bermonolog, bertanya-tanya, merenung, berpikir tak ada ujung mantengin hal yang sama. Akhirnyaa “ora ndang ngrancang alat”.

Masalahnya, tanggung jawab kita setiap hari nggak cuma TA. Tanggung jawab sosial, agama, rumah tangga (nyuci, nyetrika, bersih-bersih dsb maksudnya) dan hal akademis lainnya juga tidak boleh terabaikan. Jadi, manajemen waktu dan manajemen perasaan cukup penting. Manajemen waktu maksudnya yaa biar kehidupan beres dan TA tetep beres. Manajemen perasaan maksudnya yaa jangan gampang down sehingga banyak waktu terbuang buat galau, jangan terlalu penasaran, dan jangan terlalu berpikir rumit, sederhanakan hal yang rumit selogis mungkin. Berusahalah mengerjakan yang terbaik tapi move on lah pada waktu yang tepat. Kasih batas waktu untuk setiap apa yang kita kerjakan. Buatlah target dan buatlah prioritas agar tidak terjebak dalam suatu ketidakefektifan.
Sekian. Semangat ya para pejuang semester tua.

Saturday, 13 February 2016

Survive?

Teknik Kimia UGM. Pernah terpikir kenapa dulu saya tidak memiilih psikologi saja? Tapi, setelah direnungkan, belum tentu juga saya akan merasa "pas" dengan jurusan psikologi jika benar saya memilih psikologi. Kan semua ketauan pas atau tidak ketika sudah dijalani. Jadi ngga usah menyesali apa yang sudah jadi pilihan.
Alasan yang dulu membawa saya kesini cukup simple. Jurusan teknik UGM yang passing gradenya paling tinggi apa? Kebetulan saat saya SMA dulu yang paling tinggi adalah jurusan teknik kimia. Jadilah saya pilih teknik kimia sebagai pilihan pertama dan juga kedua. LOL.
Membahas tentang survive di kehidupan perkuliahan itu bisa tentang akademik maupun sosialnya. Nah kali ini yang akan saya bahas adalah kehidupan akademik. Tips biar bisa survive salah satunya adalah jangan tersinggung ketika ada orang yang menganggap kita bodoh ataupun ketika ada orang yang merendahkan diri kita. Pun jika itu adalah fakta, tersinggung adalah manusiawi. Namun, cobalah untuk tidak tersinggung. Jangan terpaku pada penilaian orang lain. Mereka berhak menilai. Salah benar urusan mereka. Dan kita tidak perlu repot-repot membuktikan hanya demi orang lain. Buktikan bahwa kita bisa melampau diri sendiri -yang dulu- sehingga akhirnya menjadi versi terbaik diri kita.

Tips kedua adalah jangan mudah percaya pada apa yang dikatakan oleh seseorang terkait dengan suatu mata kuliah -sekalipun dia cerdas-. Jika kita langsung menelannya bulat-bulat, pikiran kita akan tumpul. Kita menjadi terbiasa tidak berpikir dan menjadi ketergantungan. Pahami dulu sebelum ditelan. Mudah percaya juga menunjukkan kita krisis kepercayaan diri. Orang-orang cerdas juga manusia. Mereka tidak selamanya selalu benar. Hidup di sekeliling orang-orang cerdas jangan malah minder. Seharusnya kita merasa beruntung karena bisa belajar banyak dari mereka.

Tips ketiga adalah jangan terlalu mudah percaya diri dengan apa yang menurut kita benar. Ketika berdiskusi dengan orang lain atau berbeda pendapat dengan orang lain, kosongkan gelas kita dan dengarkan baik-baik. Belajarlah dari siapapun. 

Tips keempat adalah jangan mengunderestimate diri sendiri. IP turun drastis? Nilai C,D,E semua pernah dirasakan? Saya malah merasa beruntung dengan semua itu. Pengalamannya lengkap wkwkwk. Ketika sudah dalam tahap down, sulit sekali untuk tidak mengunderestimate diri sendiri. Padahal tidak ada yang tidak mungkin. Optimis dan berpikirlah positif. Sejak IP saya turun drastis yaitu di semester 3, saya merasa tidak ada daya untuk memperbaikinya. Butuh waktu lama untuk menumbuhkan kepercayaan diri lagi. Semester 4 dan 5 pun tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan. Berlama-lama terjebak dalam "sudah terbiasa dengan hasil yang tidak memuaskan". Padahal masih ada waktu untuk memperbaiki. Semester 6 dan 7 alhamdulillah IPK naik lumayan. Jadi, jangan lama-lama larut dalam keterpurukan. Gelap tak selamanya gelap. Bergegaslah menyalakan lilin.

Saturday, 6 February 2016

Kerja Praktek di Indocement

Kenapa Indocement?
Simpel. Sebagai seorang mahasiswa yang sedikit kurang prepare (read: belum mengirim proposal KP jauh-jauh hari eh bulan), masih punya tanggungan Tugas Akhir dan Penelitian, akhirnya memutuskan mencari tempat KP yang 1 bulan. Pengennya di Chandra Asri sebenarnya, tapi berhubung dapat banyak gosip dari kakak angkatan kalau Chandra Asri termasuk dalam kategori membutuhkan-waktu-lama-untuk-menunggu-diterima, udah sempat telfon perusahaannya juga dan katanya penuh, akhirnya memutuskan untuk ganti haluan. Pilihan kedua adalah Kujang, tapi kata kakak angkatan *piiip*, jadi batal juga akhirnya. Kemudian ditawari kakak angkatan untuk KP di Indocement, kebetulan ayahnya temennya kerja disana dan bisa lewat dia, yaudah iya-in aja. Akhir September mengirim proposal, pertengahan November diterima. Sebenernya nggak lewat "orang dalam" juga nggak susah kok ngajuin KP di Indocement karena membuka kesempatan KP tiap bulan.
Plant Indocement ada di 3 lokasi, yaitu Citeureup, Cirebon, dan Tarjun. Saya di Indocement Citeureup. Kebetulan teman saya, sebut saja Yogya tinggalnya di Bogor, dan kebetulan lagi budhenya tinggal di dekat Indocement. Alhamdulillah jadi mudah mencari kos-kosannya eh kontrakan, kalau disini istilahnya kontrakan, biasanya tempatnya "kosongan", susah cari yang "isian". Tinggal disini lumayan tantangannya wkwkwk. Berhubung jarang anak kos, kebanyakan adanya keluarga yang ngontrak, alhasil warung makan pun bisa dikatakan jarang. Jadi, kadang saya dan partner makan pagi dan makan malam di warung yang sama. Seringnya, tiap hari juga makan di warung yang sama. Untuk menuju pabrik, kita jalan kaki, kira-kira 20 menit lah, kalaupun naik angkot tetep harus jalan kaki *read: 3/4 perjalanan adalah jalan di gang kecil*. 
Sebelum Kerja Praktek dimulai, kami dibekali Training selama 3 hari *jangan berharap training terus pulang pagi, tetep pulang jam kerja wkwk*. Waktu training diajak plant tour *dengan bus, bukan jalan kaki* dan dijelasin macem-macem mulai dari profil perusahaan, proses produksi, K3, alternatif fuel, penyakit akibat kerja, CSR, mining division, tata tertib dsb yang semuanya sangat menghipnotis mata kita, ngantuk maksudnya, mau tidur nggak enak karena bawa nama almamater, mau nggak tidur tapi tetep aja kadang ketiduran. Eh ada sih yang nggak bikin ngantuk, yang pembicaranya koplak dan kocak wkwkwk. Namun, semua materi bermanfaat kok. Teman kerja praktek kita ada dari UII,UPN,Universitas Sultan Ageng, Elins UGM, sama UNS, dan juga anak-anak SMK yang heboh dan super alay. Jam kerja dari pukul 08.00-17.00 WIB, berhubung kosan jauh biasanya saya dan partner berangkat setengah 7 pulang ke kos setengah 7. Hal yang paling menakutkan saat Kerja Praktek adalah "ketinggalan bis" hahaha. Jadi, untuk menuju ke plant masing-masing kita memakai bus perusahaan yang adanya hanya di jam tertentu, fyi di Citeureup ada 9 plant aktif dan 1 plant baru yang masih dalam proses.
Hari pertama KP dikenalkan dengan pembimbing lapangan, namanya Pak Rizki, masih muda sih, angkatan 2008, tapi udah nikah. Setelah itu kami diberi gambaran lebih detail tentang proses produksi oleh pak Rizki kemudian siangnya Plant Tour. Asik lah pokoknya, meskipun so tired, dua jam coy keliling sampai lantai paling atas. Fyi, engineer disini nggak ada yang perempuan, terlalu kasian katanya, wkwkwk.
Rotary Dryer
Partner!
Kalau ada yang tanya, KP di pabrik semen dapet ilmu nggak? Dapet dong, tapi ya ilmu tentang semen. Alat industri pabrik semen memang relatif sedikit jika dibandingan dengan pabrik lain, yaitu alat pengangkut padatan, dryer, alat mill, grate cooler, suspension preheater, kiln, electric precipitator, gas conditioning tower, alat penyimpan padatan, dan sekitarnya. Jangan berharap lihat absorber, menara distilasi atau reaktor yang aneh-aneh disini. Semakin banyak inisiatif bertanya, semakin bertambah ilmu yang didapatkan. Yang terpenting, KP itu selain belajar tentang proses di pabrik itu juga belajar untuk penyesuaian diri di lingkungan kerja, mengenal manajemen perusahaan dan bisa sedikit ada gambaran tentang peran process engineer secara nyata.
Sekian. Lanjut lagi kapan-kapan yaa.



Thursday, 24 December 2015

Pengalaman Tes Rekrutmen PT. PTI (Paragon Technology Innovation)

Iseng-iseng mengikuti tes Paragon. Kesempatan untuk cari pengalaman hehe. Iseng tapi serius sih. Iseng karena sebenarnya saya masih belum tahu pengen kerja dimana. Serius karena saya ingin mengetahui kemampuan saya dalam rangka persiapan tes menghadapi dunia kerja nantinya. Alhamdulillah lolos tahap satu. Tahap satu berupa psikotes sama tes Pauli. Kuncinya sih fokus, belajar berpikir cepat, dan selalu perhatikan instruksi dari depan. 
Tahap dua adalah wawancara tertulis dan tes kepribadian. Tesnya ada banyak, diantaranya adalah:
1. Menjawab 225 tes kepribadian dan sekitar 20 soal tentang kepribadian juga. Intinya memilih pernyataan mana yang lebih menggambarkan dirimu. Jawab saja dengan jujur. Kalau tidak jujur, selain nggak berkah, kalaupun lolos tahap ini nanti waktu wawancara emangnya bisa dijamin masih inget pilihan bohongmu apa? 
2. Wawancara tertulis, intinya menggali karaktermu dan sejauh mana kamu mengenal dan ingin bergabung dengan Paragon.
3. Psikotes Warteg, nggambar dan psikotes lainnya. Untuk psikotes sendiri yang paling penting adalah cepat kalau menurut saya. Semua orang pada dasarnya bisa mengerjakannya, kecepatannya yang berbeda. Cepat dan benar sih tentunya. Banyak-banyak latihan aja.
Pada tahap kedua ini saya tidak lolos. Tapi sekali lagi, tidak ada yang sia-sia. Namanya juga cari pengalaman. Pelajaran berharga yang saya dapat adalah:
1. Saat memilih posisi yang diinginkan jangan asal, wkwk. Waktu itu saya memilih PLDP yang sebenernya saya tidak tahu apa itu PLDP. Setelah dicari tahu ternyata merupakan bagian dari marketing kalau tidak salah dan bekerjanya di cabang (Distribution Centre), bukan di plant-nya.
2. Harus bisa mengungkapkan dengan baik kalau ada pertanyaan "Coba ceritakan tentang dirimu". Jadi, selain harus benar-benar mengenal diri sendiri, harus bisa mengkomunikasikan dengan baik secara lisan maupun tertulis. Selain itu, harus tahu mana yang penting untuk diceritakan dan tidak, serta pandai mempromosikan diri.
3. Harus mengenal dengan baik perusahaan dan sebaiknya kalau memang tidak ada minat untuk bergabung dengan perusahaan ya lebih baik tidak perlu melamar di perusahaan tersebut.
4. Ada salah satu pertanyaan yang mebuat saya menyadari suatu hal yang selama ini tidak saya sadari yaitu "Tuliskan kegagalan dan keberhasilanmu selama dua tahun terakhir". Kalau kita tidak bisa mengingatnya dalam satu menit, itu artinya kegagalan atau keberhasilan kita bukan sesuatu yang membekas, bukan sesuatu yang berperan dalam hidup kita. Kalau dalam bermenit menit kita bahkan tidak bisa menuliskannya, itu artinya mungkin kita enggan mencoba sehingga sedikit sekali pencapaian dalam hidup. Jadi, sebelum lulus mari perbanyak kegagalan *eh. Maksudnya, banyak-banyaklah mencoba, jangan pernah takut gagal. Perbanyak pengalaman mumpung masih ada kesempatan.


Ujian Mikrobiologi

Mata kuliah paling absurd. Sebenernya lebih absurd Filsafat dan Penciptaan Ilmu waktu semester awal dulu sih. Tapi berhubung udah semester tua, rasanya kalau masih ada mata kuliah absurd itu semacam aneh banget wkwkwk.
Mikrobiologi merupakan mata kuliah baru di pilihan minat yang saya ambil, yaitu minat Bioproses sehingga minat Bioproses menjadi genap 10 sks dengan bobot masing-masing dua sks per mata kuliah. Sebenarnya ada yang ''aneh'' dengan susunan mata kuliah minat Bioproses. Mata kuliah yang buka semester genap adalah Proses Industri Pangan dan Aplikasi Bioproses sedangkan mata kuliah yang buka semester ganjil adalah Mikrobiologi Industri, Dasar-dasar Bioproses dan Dasar-dasar Ilmu Pangan. Mata kuliah semester ganjil adalah mata kuliah dasar (termasuk mikrobiologi) sehingga tidak cocok untuk diambil sesudah mengambil mata kuliah PIPang dan ApBio, ditambah lagi mata kuliah Mikrobiologi ini menurut saya kurang jelas kesinambungannya dengan industri dan dengan mata kuliah minat pangan yang lain. Alhasil, setiap kamis jam 2 rasanya cuma pengen bolos terus :"""
H-1 sebelum ujian bahkan saya tidak berminat untuk membuka materi yang sudah didownload. Setiap akan membukanya selalu timbul pertanyaan "belajar mikrob buat apa sih". Seharusnya sih semua ilmu pasti ada gunanya, belajar apapun tidak ada yang tidak berguna, tapiiii anak-anak mikrob pasti tau lah ya kenapa tetap saja malas sekali belajar mikrob wkwkwkwk. Akhirnya H-1 saya malah sibuk mengerjakan T3 kemudian hari H tetap saja masih lebih memilih mengurus T3. Dan akhirnya, baru kali ini ujian benar-benar tidak membuka slide materi dengan alasan bukan karena nggak punya materinya tapi cuma karena males buka aja. 
Saya benar-benar "bodo amat" sama nilai yang keluar nantinya apa. Kalau memang nggak ada sense sama sekali yasudah tinggalkan. Jangan dicontoh ya. Orang yang kurang berpikir ke depan mah gini.
Saat ujian, 20 menit saya sudah selesai menyelesaikan soal sementara waktu pengerjaan soal adalah 90 menit (read: sudah putus asa, mau ngarang juga bingung mau ngarang apa, pertanyaannya aja asing gimana mau ngarang hahaha)
Tapii, ternyata tidak dibolehkan keluar sama Bu Sri, sang penjaga ruang ujian. Minimal 60 menit katanya. Tekkim mah gitu.
Berhubung bingung mau ngapain, akhirnya saya menulis surat untuk bapaknya. Kali kedua menulis surat saat ujian. Setidaknya kali ini lebih bermutu sih isinya hehehe. Isinya berupa kritik, saran, dan tentu saja permintaan maaf karena selama di kelas tidak pernah berhasil untuk memperhatikan. Tentu saja dengan bahasa yang sangat halus dan sopan (padahal dalam hati pengen curhat betapa mikrob itu sangat amat tidak jelas :""")
Akhirnya, surat saya bahkan lebih panjang daripada jawaban ujiannya wkwkwkwk. Bukan karena saking panjang suratnya, tapi saking pendeknya jawaban ujian saya.
Sekian curhat tentang ujian paling hina sepanjang kehidupan di Tekkim.

Friday, 2 October 2015

RA (Risk Assessment)

Kali ini saya mau cerita pengalaman RA dengan Pak Imam, salah satu dosen killer Tekkim... dan kayaknya emang satu-satunya ding. Pertama mau RA semangat banget tapi ternyata bapaknya lagi nggak mood, kata Asyam beliau bilang "besok saja". Lol. Hari berikutnya setelah antri, akhirnya RA juga.
A: Permisi, Pak. (dengan muka sok ramah, heheheee)
B: Silakan.
A: Ini, Pak (menyodorkan lembar RA)
B: Membolak-balik RA kemudian...Anda menulis ini berdasarkan apa?
A: Jadi begini, Pak. Misalnya untuk bahan Asam Sulfat, sifatnya ini mengacu pada lalala (sambil nunjuk-nunjuk MSDS, ngomongnya masih sambil deg-degan banget pas pertanyaan pertama ini)
B: Langsung memotong. Berdasarkan apa?
A: Bingung..MSDS, Pak. 
Terus ganti pertanyaan. Kesimpulannya Pak Imam itu nggak suka bertele-tele, jawab sesuai yang definisi-Pak-Imam-banget gitu aja.
B: MSDS itu apa?
A: Lembar Data Keselamatan Bahan
B: Diam, muka kurang puas menanti jawaban.
A: Material Safety Data Sheet, Pak.
B: Artinya?
A: Lembar Data Keselamatan Bahan
B: Ini apa? (sambil nunjuk angka Diamond Hazard)
A: Angka, Pak. Maksudnya angka yang menunjukkan tingkatan bahaya
Terus ditanya pertanyaan wajib, level Diamond Hazard ada berapa, artinya apa aja. 
B: Bahan anda ada yang 3 atau 4 nggak?
A: Ada, Pak. Asam Sulfat.
B: Angka 3 darimana?
A: Yess ditanya. Makasih Dindaa. Jangan lupa nyebutinnya harus urut kata Dinda. Angka 3 disebabkan karena Asam Sulfat bersifat karsinogenik, korosif, irritant, dan oxidizing.
(upss salah ngomong, harusnya oxidizing masuk yang angka 2 deh kayaknya)
Nggak dikomentari, ganti pertanyaan. Kayaknya moodnya lagi baik haha.
B: Karsinogeniknya masuk klasifikasi apa?
A: Classified one, Pak. (pas ngomong ini saya merasa keren bisa jawab hahaha, padahal juga dikasih tau Dinda)
B: Apa itu?
A: Yang paling berbahaya, Pak. Sudah diuji di manusia dan terbukti karsinogenik.
B: Proven for human
A: Oh iya, Pak. Proven for Human.
Emang Pak Imam lebih suka definisi persis sesuai buku. Jadi, di MSDS udah ada tulisannya. Classified 1 (Proven for Human). Jadi, nggak usah sok-sokan pake bahasa sendiri. Terus untuk bahan yang sama kayaknya pertanyaannya emang sama deh.
B: Korosif itu apa?
A: Yess ditanyaa ini. Makasih Megaaa. Bahan yang dapat menyebabkan perubahan permanen atau kerusakan pada jaringan hidup.
B: Kenapa ini toxic?
A: Karena LD50 kurang dari 500 mg/kg
B: LD50 itu apa?
A: Dosis yang menyebabkan 50% kematian terhadap populasi yang diuji.
B: Asam Sulfat toxic nggak?
A: Tidak Pak, karena LD50 lebih dari 500 mg/kg (Sengaja nggak nyebut-nyebut LC karena saya nggak tau batesnya, padahal berdasarkan LC-nya juga harusnya)
B: Tanda Tangan.
Alhamdulillaaah, nggak sia-sia keluar setengah jam waktu kuliah Mikrobiologi. Maafkan saya Pak Dosen Mikrob :""""
Fakta lain yang perlu di-note, ternyata Pak Imam nggak se-serem waktu ngajar cara ngomongnya pas RA. Nadanya lebih rendah dan nggak nyeremin sih. Sebelum RA tuh saya bayanginnya bakalan kayak gini. "MANA BAHAN YANG PALING BERBAHAYA?" sambil matanya menatap tajam dan nadanya tinggi, hahahahahah hiperbola emang saya. Sekian cerita RA kali ini. Semoga bermanfaat.

Saturday, 28 February 2015

Supernova: PARTIKEL

Cerpen Dee yang berjudul "Filosofi Kopi" bagaikan magnet yang membuat saya tertarik untuk membaca novelnya. 
Di antara Partikel, Akar, dan Petir, Partikel adalah yang paling bagus menurut saya (fyi, saya tidak menganggap novel-novel tersebut adalah bagian dari serial supernova, saya baca tidak berurutan, semau saya saja, masa bodoh dengan misteri yang ada di dalam supernova haha).
Partikel adalah sebuah mahakarya yang KAYA, CERDAS, DALAM, dan MEMBUKA MATA. Meskipun sesekali terselip pengetahuan yang menurut saya ditulis terlalu detail -yang menurut saya tidak perlu- sehingga membuat kening saya berkerut *maaf subjektif banget yang ini :p*. Yaa anggap saja bagian tersebut adalah bacaan ilmiah yang dapat menambah wawasan.
Novel ini menceritakan tentang dampak perbedaan yang akhirnya memaksakan sebuah perpisahan. Tentang pencarian jati diri, tentang masa lalu yang menghantui, tentang penyerahan diri dan kepercayaan, tentang hubungan manusia dengan alam, dan masih banyak lagi. Kalau mau tahu ceritanya bisa baca sinopsisnya disini
Saya cuma mau mengutip kata-kata yang saya suka dari novel ini

Kehidupan seorang Zarah dimulai.
“...manusia telahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur ke luar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta.”

“Setiap pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan hanya waktu.”

Bagi Zarah, ayahnya adalah segalanya.
“Jangan pisahkan dirimu dari binatang."
"Biar apa, Ayah?"
"Biar kamu tidak sombong jadi manusia," ujarnya sambil tersenyum.”


“Banyak hal yang nggak perlu kedengeran bunyinya, tapi kelihatan dari tindakannya.”
 
Saat ayahnya menghilang, Zarah pikir dengan sekolah dia bisa mencari ilmu dan memahami jurnal ayahnya yang diberikan padanya, berharap kemudian ia bisa menemukan ayahnya. Di sekolah, Zarah berhadapan dengan berbagai konflik. Dia yang terbiasa diajar oleh ayahnya gagal menyesuaikan diri di sekolahnya. Dengan ayahnya, belajar adalah sesuatu yang mengasyikkan, sementara belajar di sekolah adalah sesuatu yang membosankan, tidak memberikan ruang baginya dan menekannya.
Kenapa berbeda menjadi begitu menakutkan? Aku berpikir dan berpikir. Dan tetap aku gagal memahami....Kali ini aku berempati pada ayah. Kesulitannya, rasa putus asanya kepada lingkungan sekitarnya, dan betapa lemahnya terisolasi sendiri tanpa ada yang memahami. 

Suatu hari ibunya dipanggil oleh sekolah karena Zarah menurut guru agamanya sudah keterlaluan. Kakeknya semakin murka dan putus asa terhadapnya.
Mengapa mereka harus meradang karena pertanyaan-pertanyaanku? Seolah-olah semua semua yang ku ucapkan adalah hinaan? Kenapa mereka tidak bisa melihatnya semata-mata sebagai pertanyaan? Mengapa kata "agama" dan "Tuhan" menyulut api dalam setiap hati orang yang kutemui? Dan sungguh aku muak dengan kata satu itu. Ateis. Bagiku, ini bukan soal percaya atau tidak percaya, melainkan tidak ada kesempatan untuk mempertanyakan.

Teman Zarah adalah kamera-nya. Dia belajar fotografi dengan teman baik ayahnya, salah satu orang yang mau mendengarkan ayahnya. Zarah seketika teringat momen bersama ayahnya.
Aku bertanya, "Bisa tahu bedanya yang mendengar dengan sepenuh hati dan enggak, gimana caranya, Yah?"
"Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengarkan, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu," jawab Ayah. 

Bakat fotografinya secara tidak terduga membawa Zarah ke Kalimantan, sebuah ekowisata yang merupakan hadiah yang dia dapatkan sebagai pemenang lomba. 
“...Berkesempatan melihat tanah airku dari ribuan kaki di atas permukaan laut menyadarkanku atas kebenaran kata-kata Ayah dulu. Hutan Kalimantan tidak selebat yang kubayangkan. Tampak bolong-bolong luas dimana-mana. Hutan yang tinggal jadi sejarah. Tebaran atap serta padatnya pemukiman manusia terlihat bagai sel kanker yang menyebar. Menggerogoti hijaunya hutan. Dari atas sini, aku melihat Kalimantan yang terluka.”

Perbedaan Sekonyer Kiri dan Kanan adalah bukti yang kasatmata. Gamblang. Sekonyer kanan menunjukkan air sebagaimana alam menghendakinya. Sekonyer Kiri menunjukkan air yang terus-terusan diperkosa manusia.

“Manusia berbagi 63% kesamaan gen dengan protozoa, 66% kesamaan gen dengan jagung, 75% dengan cacing. Dengan sesama kera-kera besar, perbedaan kita tidak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orang utan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.”

Pengalamannya selama berada di ekowisata membuat Zarah seketika ingin tinggal di Tanjung Puting. Berusaha mencari celah pada Ibu Inga agar mengijinkannya tinggal sebagai salah satu relawan disana.
"Kenapa kamu disini, Zarah?"
"Saya mencari rumah, Bu," jawabanku meluncur begitu saja. "Mungkin bisa saya temukan disini."
"Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam," katanya lembut sambil menempelkan tangannya di dada. "Kalau di dalam damai, semua tempat bisa menjadi rumah kita."

Zarah kemudian benar-benar tinggal di Tanjung Puting. Mengasuh Sarah, bayi orangutan yang ditinggal mati ibunya karena ulah manusia.
"You need to remind yourself, over and over again, they're not humans,"
"Kita pikir mereka yang akan susah melepaskan ketergantungannya kepada kita. Dari pengalaman saya, justru sebaliknya. Manusialah yang lebih sulit melepas. We're built for drama, while they will be orangutans," lanjutnya.

Mungkin karena itulah Ibu Inga berkali-kali memperingatkan kami, para pengurus orangutan, untuk memiliki jarak yang sehat dengan orangutan yang kita urus. Setelah sekian lama kita menjalin hubungan dengan mereka, tanpa sadar kita menganggap mereka serupa manusia. Dan sebagaimana manusia adalah makhluk yang selalu dikejar ekspektasi, tak ayal kita menciptakan aneka ekspektasi yang membebani hubungan kita dengan orangutan.

Zarah akhirnya pulang ke rumah, pulang untuk pamit pergi ke London. Perang dingin dengan ibunya masih berlangsung. Jurnal ayahnya yang dibakar masih membayang.
Hatiku pedih ketika sadar ucapan Ibu ternyata benar. Akulah yang belum memaafkannya. Tak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan.

Sosok Paul dan Zarah yang pemberani.
"Kalau begitu, kenapa tadi kamu marah?"
"Dalam grup kecil kita tadi siang, harusnya saya yang jadi jantan superior...........Sepercaya-percayanya saya sama emansipasi perempuan, pada situasi seperti tadi, sayalah yang harusnya melindungi kamu. Nah, kembali ke pertanyaanmu. Apakah saya marah? Nggak. Saya nggak marah. Saya cuma bereaksi sebagaimana normalnya jantan yang harga dirinya terluka.

Zarah akhirnya mengambil kesempatan menjadi fotografer wildlife. Bergabung dengan The A Team yang dikoordinasi oleh Paul.
“...Nggak semua orang bisa diam di dalam batang kayu dua jam untuk memotret buaya dari jarak dekat. Kalau kamu nggak ambil foto ini, bagaimana kita bisa tahu rasanya kontak mata dengan buaya? Nggak semua orang bisa tahan berbulan-bulan di Arktik mengintili beruang kutub. Kalau nggak ada yang melakukannya, bagaimana orang di belahan dunia lain bisa tahu betapa penting dan indahnya beruang kutub. Bagi saya, fotografi wildlife adalah jembatan orang banyak untuk bisa mengenal rumahnya sendiri. Bumi ini. I see our profession as an important bridge that connects Earth and human population. We’re the ambassador of nature.”

Keadaan yang menegangkan tak luput dialamai Zarah selama bertugas. Kesadarannya seringkali terlambat terhadap bahaya yang mengancam. Pernah ia berendam di danau dengan ketakutan karena jaraknya sungguh sangat dekat dengan object, tetapi insting fotografernya tetap tidak hilang. Rasanya seperti hampir mati. Singa itu bisa memangsanya kapanpun.
Meski singkat, aku telah diberi kesempatan merasakan hidup di tengah-tengah mereka tanpa memakai sudut pandang manusia. Ukuranku yang "menciut" memampukanku melihat betapa megahnya makhluk-makhluk itu. Status kami yang berubah sejajar mengingatkanku bahwa kerajaan manusia dan hewan pada hakikatnya sama. Kami sama-sama penumpang di Bumi. Tak ada yang lebih unggul.
Kembali ke London, ke kota modern yang dirancang semaksimal mungkin untuk kenyamanan manusia, di mana kita terlindungi dari cuaca ekstrem, hidup dalam terang artifisial, didukung kenyamanan barang-barang sintetik, aku berharap aku tidak lupa. Aku berharap hangatnya air bersih dan melimpahnya busa wangi di bathtub ini tidak membuatku amnesia. 
Kita cuma penumpang

London. Kota yang mempertemukan Zarah dengan sahabat lamanya. Koso. Teman sebangku saat di sekolah dulu. Satu-satunya teman. Orang yang membuat Zarah, pemilik otak cerdas yang rela tinggal kelas demi membantunya yang kesulitan belajar akibat disleksia yang dideritanya -dan demi agar dirinya tidak sendirian, naik kelas dan tidak punya teman sebangku adalah mimpi buruk. London. Kota yang mempertemukannya dengan Storm, fotografer bidang fashion ternama yang mampu membiusnya dengan karisma dan perlakuannya terhadapnya. Membuatnya tidak mampu melihat cinta terpendam seorang Paul -yang selalu ada untuknya.
Dan cukup dua menit untuk menyadari aku jatuh cinta. Bukan. Bukan lagi jatuh. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa lagi peduli apa yang menyambutku di dasar sana-kalau memang ada dasarnya.
Cintaku kepada Storm menembus batasan waktu. Menembus batasan akal. Karena itulah, aku buta. Tak kulihat apa yang seharusnya sudah lama terlihat.
Storm adalah semacam Brutus dalam sejarah Romawi, orang yang didesain untuk menancapkan belati ke punggung, menembus jantung, dan terkaparlah aku akibat pengkhianatannya. Koso ibarat Iago dalam pentas Othello, orang terdekat yang dirancang untuk mengingkariku secara keji dan sistematis. Mereka adalah virus yang disusupkan ke dalam sistem. Dorman, tak berdosa, membuai kita hingga waktunya tiba untuk mereka bangun dan menyerang tanpa ampun.
Kembali, dua orang terpenting dalam hidupku, terbukti mampu melambungkanku tinggi sekaligus menghancurkanku sekali jadi. Lagi-lagi, aku kalah berjudi.

Pencarian Zarah perihal ayahnya akhirnya membuahkan hasil dengan bantuan Paul. Ia bertemu dengan seseorang yang dulu memberinya kamera spesial pada hari ulang tahunnya. Salah satu clue tentang ayahnya yang menghilang. Meskipun pada akhirnya dia belum menemukan ayahnya, banyak yang ia temukan dari pertemuannya dengan Simon Hardiman.
“Itulah satu hal yang tidak bisa kamu palsukan: intention," jelas Dave. "Mau manusia atau ET, saya rasa itu hukum universal. Intention speaks louder than any code.” (saat melihat fenomena crop circle)

"Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai dimana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.

Kita tidak bisa memakai keterbatasan logika untuk memahami kompleksnya dimensi lain. Kalau logikamu tidak sanggup mengikuti, tapi intuisimu merasakan sesuatu, bukan berarti kita pasti salah kan? Buat saya, segalanya mungkin.

"Hilang tanpa bekas," Pak Simon tertawa. "Tapi, bukan berarti dia nggak bisa balik lagi kan? Bedanya, sekarang saya nggak takut lagi. Persepsi saya jadi berubah..................., membuka mata saya bahwa penyakit bukan sekedar gangguan. Tapi kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan."

Sekian.
Terimakasih kepada Ita Sholihatin -pembaca setia Dee- yang telah berkenan meminjamkan novelnya. Saya tunggu koleksi selanjutnya, Inteligensi Embun Pagi wkwkwk *nggak modal*.